Minggu, 27 Oktober 2013

Makalah Pengaruh Pergaulan Remaja Terhadap Kepribadian

BAB 1
PENDAHULUAN



LATAR BELAKANG

Masa remaja merupakan masa yang paling menentukan dalam kehidupan seseorang. Saat seseorang memasuki masa remaja maka ia akan menjadi lebih labil. Karena pada masa remaja seseorang akan mulai membentuk karakter serta kepribadiannya. Karakter dan kepribadian seseorang dapat terbentuk dari apa yang dilakukan remaja dalam kesehariannya. Dapat juga terbentuk dari keluarga, lingkungan, pendidikan, dan  pergaulannya. Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang pengaruh pergaulan remaja terhadap pembentukan kepribadian.
            Masa remaja dapat dikatakan sebagai masa pencarian jati diri. Dalam masa ini seseorang akan mulai mencari jati dirinya. Namun dalam masa pencarian jati diri ini, remaja sering salah memilih teman dalam pergaulan. Akibatnya, banyak remaja yang terjerumus dalam hal-hal negatif dan bersifat merusak. Tidak hanya merusak dirinya sendiri, namun juga merusak masa depannya serta mencoreng nama baik keluarga serta sekolahnya. Untuk itu kita harus berhati-hati dalam memilih teman.


TUJUAN

Adapun tujuan dibuatnya makalah ini antara lain, yaitu:
1.      Agar remaja berhati-hati memilih teman bergaul yang baik
2.      Supaya remaja tidak memiliki kepribadian yang negatif
3.      Agar remaja bisa menjaga dan memelihara pergaulan yang baik




RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan referensi yang telah dikumpulkan maka dapat dibuat rumusan masalah seperti berikut:
1.      Pengertian Berteman dan Bergaul
2.      Berhati-hati dalam Memilih Teman
3.      Pergaulan dan Kepribadian
4.      Menjaga dan Memelihara Pergaulan



BAB 2
PEMBAHASAN


Pengertian Berteman dan Bergaul
Berteman menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya berkawan, bersahabat, tidak seorang diri; ada temannya, berbagi dan beriring. Sedangkan pertemanan berarti perihal berteman. Sedangkan bergaul menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya hidup berteman atau bersahabat. Sedangkan pergaulan berarti perihal bergaul; kehidupan bermasyarakat.

Berhati-hati Dalam Memilih Teman
            Sebuah pertemanan atau pergaulan merupakan sebuah karunia. Akan tetapi dalam bergaul atau bersahabat kita harus berhati-hati karena ada sahabat yang berteman karena harta, kedudukan, tendensi dunia, sekedar mengobrol saja, dan ada juga yang bersahabat karena kepentingan agama yang ingin mengambil faidah dari ilmu dan amalnya, bersahabat karena memiliki hobi yang sama atau hanya karena butuh pertolongannya saja, tapi ada juga sahabat yang selalu menyusahkan kita saja sehingga mendera jiwa dan kehidupan kita.
            Mencari teman itu tidak terlalu sulit. Begitu juga dengan bergaul dan bersahabat dengan orang lain. Akan tetapi mencari sahabat sejati, sahabat yang bersedia ada dalam suka dan duka tidaklah mudah. Karena pertemanan yang indah saat diri kita menjadi pilihan kebutuhan jiwa teman kita. Sejatinya pergaulan itu akan mendatangkan sikap saling memberi, menerima, menutupi sehingga terbuka lebar bagi setiap sahabat untuk saling tolong-menolong, saling menasehati dan tidak memaksa. Karena bila kita memaksa sesuatu kepada teman kita maka sesungguhnya kita telah berlaku zhalim atas diri teman kita.
            Ikatan pergaulan hakiki tidak akan terwujud kecuali dari ketulusan dan keluhuran iman yang tertanam di lubuk hati orang-orang yang bebas berkehendak dan mempunyai persepsi yang benar, serta dibarengi aplikasi yang sempurna dan menyeluruh terhadap perintah Allah swt, karena mengharapkan rahmat dan pahala dariNya.
            Ikatan itu juga tidak akan muncul kecuali dari jiwa yang diliputi iman yang mendarah daging di dalamnya; jiwa yang tidak mengenal Tuhan selain Allah, tidak bersandar kepada kekuatan selain kekuatanNya, serta tidak mengenal rasa khawatir kecuali saat ia melakukan maksiat kepadaNya. Jiwa seperti itu berjalan menuju superioritas iman di antara manusia, tidak mengakui semua apa yang bertentangan dengan kehendak Allah maupun ia dijauhi oleh semua orang di muka bumi ini. Inilah yang kita sebut dengan pergaulan dalam ketakwaan di mana ada pertautan nilai-nilai spiritual yang dianugerahkan Allah kepada hati-hati setiap manusia. Inilah sebenarnya yang terbaik buat kita. Sebab kedekatan pergaulan itu tidak hanya ada di dunia tapi juga di akhirat. Sehingga pergaulan kita mendapat rahmat dariNya dan mendatangkan naunganNya di padang mahsyar yang panas.
            Oleh sebab itu kita harus berhati-hati dalam berteman dan bergaul. Ibnu Qudama Al Maqdsi mengingatkan, “Ketahuilah tidak dibenarkan seseorang mengambil setiap orang jadi sahabatnya, tetapi dia harus mampu memilih kriteria-kriteria orang yang dijadikan teman, baik dari segi sifatnya, perangainya atau lainya, yang bisa menimbulkan gairah berteman, dan sesuai pula dengan manfaat yang bisa diperoleh dari persahabatan tersebut”.

Pergaulan dan Kepribadian
            Setiap interaksi pergaulan yang intens kepada seorang teman akan membawa pengaruh. Karena sifat, sikap, tingkah laku jika bersentuhan dengan pribadi seseorang maka akan memberikan dampak bagi orang tersebut. Perilaku yang buruk biasanya akan lebih cepat menular kepada pembentukan kepribadian seseorang. Ibarat penyakit menular yang akan menjangkiti siapapun yang berada didekatnya. Sebagai contoh, bila kita bergaul dengan anak-anak punk maka kita bisa ikut-ikutan menjadi anak punk, bila kita bergaul dengan para motivator maka hidup kita akan berubah menjadi semangat motivasi, jika kita bergaul dengan orang shalih maka kita bisa menjadi anak yang shalih, jika kita bergaul dengan para penulis maka kemungkinan besar kita pun bisa menjadi seorang penulis, jika kita bergaul dengan orang yang suka mencuri maka perilaku kita bisa menjadi seperti seorang pencuri, dan lain-lain.
            Hal tersebut juga sesuai dengan hadits Rasulullah, “Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik (shalih) dan teman yang jahat adalah seeprti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau membeli darinya, atau engkau akan mencium aroma harumnya itu. Sedangkan peniup api tukang besi mungkin akan membakar bajumu, atau engkau akan mencium bau darinya yang tidak sedap.”(HR. Bukhari)
            Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam bergaul. Terutama pada masa remaja, di mana kondisi masa remaja ada peningkatan rasa ingin tahu terhadap sesuatu hal. Remaja sangat mudah tertarik pada “bagaimana sesuatu bekerja”. Bila kurangnya informasi, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman, maka akan menimbulkan banyak masalah. Di sinilah seorang yang kreatif diperlukan. Karena seorang yang kreatif mempunyai rasa ingin tahu tahu yang besar. Kita semua berpotensi untuk menjadi orang yang kreatif. Jika kita yakin pada diri sendiri bahwa kita adalah orang yang kreatif maka kita akan menemukan cara yang kreatif untuk mengatasi setiap masalah yang kita hadapi. Sehingga kita menjadi manusia yang bijak dalam menyikapinya. Kreatif kita dalam bergaul juga harus kita perhatikan sehingga kita bisa memilih-milih teman yang layak menjadi teman kita.
            Akan tetapi bila kreativitas kita yang tinggi digunakan untuk hal-hal yang tidak baik maka akan terjadi suatu tindakan keburukan. Oleh karena itu setiap orang perlu dibekali pembelajaran agama, pembinaan dari orangtua di rumah agar mendekatkan anak-anaknya dalam kebaikan, dalam mengingat kepada Allah dan setiap remaja harus berperilaku akhlak yang mulia dan terpuji. Sehingga selalu memilih pikiran yang positif, kreatif dan bijak agar menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Ingatlah bahwa setiap apa yang kita perbuat, Allah selalu melihat perbuatan kita itu. Oleh karena itu berhati-hatilah dalam bergaul. Jika teman kita mempunyai sifat atau kebiasaan yang umumnya tidak disukai orang lain dan bisa menghambat pergaulannya maka menjadi kewajiban kita untuk segera mengingatinya. Namun dalam memberi nasehat juga harus pake etika dengan memilih situasi dan waktu yang tepat. Sehingga teman kita tidak salah paham terhadap kita.

Menjaga dan Memelihara Pergaulan
            Dalam berteman juga kita harus mampu menahan diri dari segala jenis rahasia sahabat kita. Semakin dekat diri kita maka semakin banyak rahasia tentang pribadi dirinya yang kita ketahui, segala jenis informasi tentang kepribadian, watak, karakter, kebaikan bahkan sampai aib dan celanya pun di ketahui. Sebab orang terdekat biasanya tidak segan-segan membicarakan tentang hal dirinya kepada sahabatnya. Begitu juga dalam hal memuji sahabat kita. Kadang pujian itu bernilai kebaikan untuk memotivasinya tapi kadang pujian itu akan berdampak negatif yang menjerumuskannya ke dalam perbuatan tercela, sombong dan angkuh. Oleh sebab itu, ketika memuji sahabat kita jangan berlebihan dan usahakan tidak memujinya di depan orang banyak. Rasulullah melarang kita melakukan hal itu. Ada sebuah hadist mengatakan memuji seseorang di depan orang banyak sama halnya kita telah memenggal lehernya. Kita harus menghargai sahabat kita sendiri. Karena di sinilah akan timbul pertemanan yang hakiki. Akan tetapi, menceritakan kebaikan seorang sahabat kepada orang lain itu meruapkan sebuah hal yang sangat bagus karena itu ibarat sebuah rekomendasi agar orang lain mau berteman dengan sahabat kita. Maka jagalah dan peliharalah pergaulan kita, sehingga tidak meruntuhkan arti sebuah kepercayaan dari pergaulan antar sahabat itu.
BAB 3
PENUTUP

Saran

            Remaja adalah generasi penerus bangsa. Apabila moral remaja buruk maka nasib bangsa mungkin juga akan kacau kedepannya. Untuk itu kita harus membentuk moral dan kepribadian remaja dengan akhlak kharimah. Membentuk kepribadian yang baik dapat dilakukan sejak dini, antara lain selalu mendekatkan diri pada Tuhan agar tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal yang bersifat negative serta merusak. Dan juga kita harus pandai memilih teman dalam pergaulan. Jangan sampai teman kita tersebut menjerumuskan kita pada hal-hal yang dapat merusak diri kita sendiri. Ada baiknya jika kita dapat memberikan pengaruh positif terhadap teman kita.



Kesimpulan

            Kita sebagai manusia harus saling tolong-menolong dalam hal kebaikan. Kita harus pandai memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Teman adalah seseorang yang sangat kita butuhkan. Namun teman juga bisa menjerumuskan kita pada hal-hal yang kurang bermanfaat bahkan merusak diri kita serta masa depan kita. Untuk itu kita harus hati-hati dalam berteman. Karena teman bisa memberikan efek negatif pada kepribadian kita. Namun jangan sampai juga kita membuat kepribadian teman kita menjadi buruk. Kita harus saling menjaga dan memelihara ikatan pertemanan kita. Jangan sampai ikatan ukhuwah/persahabatan yang sudah terjalin secara positif dapat rusak karena ego kita.

PERMASALAHAN GENERASI MUDA

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG.
Pada usia pelajar atau masa muda. Puncak dari masalah seseorang harus diputuskan pada masa muda ini, sepertikeputusan untuk menetapkan suatu pekerjaan keputusan berumah tangga, dan lain sebagainya. Belum lagi masalah yang berkaitan dengan pergaulan disekitarnya, khususnya dengan teman-teman sebayanya
Pemuda adalah individu yang bila dilihat secara fisik sedang mengalami perkembangan dan secara psikis sedang mengalami perkembangan emosional, sehingga pemuda merupakan sumber daya manusia pembangunan baik saat ini maupun masa datang. Sebagai calon generasi penerus yang akan menggantikan generasi sebelumnya.
Generasi muda adalah tulang punggung Bangsa dan Negara merupakan istilah yang sering kita dengar sehari-hari. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam lingkungan sosial saat ini memerlukan panutan dan contoh yang dapat membawa masyarakat kita ke arah yang lebih baik. Terlebih lagi di era reformasi ini, generasi muda dituntut untuk lebih berpartisipas idalam membangun masyarakat Indonesia.
Di dalam masyarakat pemuda merupakan satu identitas yang potensial sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan bangsanya karena pemuda sebagai harapan bangsa dapat diartikan bahwa siapa yang menguasai pemuda akan menguasai masa depan

B.    RUMUSAN MASALAH
1.    Apa saja masalahan yang dihadapi oleh generasi muda.
2.    Bagaima cara penanganan masalahnya.

C.    TUJUAN
Tujuan kami menyusun makalah ini adalah untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi oleh generasi muda. Permasalahan yang dihadapi oleh generasi muda tidak hanya datang dari generasi muda itu sendiri, melainkan juga dari luar dirinya, yaitu lingkungan sekitarnya. Serta cara penanganan masalahnya












BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN PEMUDA
Telah kita ketahui bahwa pemuda atau generasi muda merupakan konsep-konsep yang selalu dikaitkan dengan masalah nilai. hal ini merupakan pengertian idiologis dan kultural daripada pengertian ini. Di dalam masyarakat pemuda merupakan satu identitas yang potensial sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan bangsanya karma pemuda sebagai harapan bangsa dapat diartikan bahwa siapa yang menguasai pemuda akan menguasai masa depan.
Masa muda pada umumnya dapat dipandang sebagai suatu tahap dalam pembentukan kepribadian manusia karakteristis yang menonjol dari pemuda adalah peranannya dalam masa peralihan menuju pada kedudukan yang bertanggung jawab dalam tatanan masyarakat antara lain:
a. Kemurnian idealisme
b. Keberanian dan keterbukaannya dalam menyerap nilai-nilai dan gagasan baru
c. Semangat pengabdiannya
d. Spontanitas dan dinamikannya
e. Inofasi dan kreatifitasnya
f. Keinginan-keinginan untuk segera mewujudkan gagasan barunya
B.    MASALAH GENERASI MUDA 
Pemuda bukanlah sosok manusia yang tanpa masalah. Dengan usianya yang relatif muda, mereka dihadapkan pada berbagai masalah kehidupan yang ada di tengah masyarakatnya. Dengan berbagai kelemahan dan kelebihannya generasi muda diselimuti oleh berbagai masalah, diantaranya sebagai berikut:
1.    Masalah Fisik Pemuda
Masalah yang dihadapi oleh generasi muda tidak hanya datang dari diri generasi muda itu sendiri. Melainkan juga dari luar dirinya, yaitu lingkungan sekitarnya. Dari dalam dirinya, masalah bisa timbul dari segi fisik dan nonfisik. Dari segi fisiknya, misalnya, pertumbuhan dan perkembangan badannya murupakan masalah tersendiri bagi genrasi muda. Dari segi nonfisiknya, misalnya cara bergaul dengan teman sebayanya dan juga tingkah lakunya.
2.    Kurangnya Pemahaman keagamaan
Bagi mereka agama belum mampu diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Disamping itu, pemahaman dari sisi ajaran-ajarannya pun belum bisa dimaknai secara komprehensif, terkadang mereka memaknainya secara persial dan tekstual, bukan secara konstektual.
3.    Kurangnya Wawasan tentang Kepemimpinan, Politik,Ekonomi, Sosial, dan Lain Sebagainya.
Dengan kurangnya wawasan ini, banyak generasi muda yang hanya terkurung pada lingkungan sempitnya. Kurangnya wawasan juga dapat mengakibatkan rendahnya kreatifitas generasi muda sehingga karya-karya yang dihasilkannya pun susah di harapkan.
4.    Kurangnya Penguasaan Teknologi Komunikasi dan Informasi (Informastion and Communication Techologi - ICT)
Ini merupakan persoalan krusial karena era sekarang adalah era teknologi. Jadi, kalau tidak mampu mengusai teknologi, maka akan tertinggal bahkan akan tegilas oleh zaman.
5.    Rendanya Partisipasi Aktif dalam Pembangunan Nasional karena Tidak Memiliki Ketrampilan Hidup
Pada dasarnya, keterampilan “skill” merupakan syarat yang harus dimiliki oleh seorang generasi muda untuk mampu berpartisipasi dalam membangun bangsa.
6.    Kurangnya Kepercayaan kepada Generasi Muda dalam Bidang Poloitik. Ekonomi, Sosial, Budaya, dan Sebagainya
Kurangnya kepercayaan pada generasi muda ini paling tidak dapat dilihat dari dua sisi, yaiti pertama, dari sisi generasi muda itu sendiri, dan yang kedua, dari luar generasi muda. Dari sisi generasi muda itu sendri, lebih dikarenakan pada faktor kemampuan dan pengenbangan potensi. Sedangkan dari luar generasi muda, hal ini memiliki ketrkaitan dengan kondisi sosial masyarakat yang terjadi.jadi ada beberapa faktor yang mempengaruhinya seperti polotik, ekonomi, kepentingan kekuasaan, agama, kesukuan, dan lain sebagainya.
7.    Kurangnya Stabilitas Diri
Usia muda merupakan usia yang labil. Kemampuan diri seseorang masih sangat rentan dengan berbagai perubahan yang terjadi.
8.    Sering Terjebak dalam Konflik-Konflik Sosial
Generasi muda dengan segala potensi yang dimiliki sering menjadi pusat perhatian ketika terjadi konfli-konflik sosial. Mereka sering dijadikan ‘benteng” oleh kelompok-kelompok tertentu untuk melindungi kepentingan-kepentingannya.
9.    Rendahnya Daya Saing dalam Menghadapi Globalisasi
Rendahnya daya saing ini juga karena persoalan kerena persoalan kemampuan dan ketrampilan yang rendah. Hal ini juga terkait erat dengan dunia pendidikan, maka akan lebih memungkinkan untuk menghasilkan generasi muda yang berdaya saing tinggi. Akan tetapi untuk mencari pendidikan yang bermutu saja masih susah, maka akan susah juga untuk meningkatkan daya saing.
10.     Meningkatnya Penyalah Gunaan Narkotika dan Obat-obatan Terlarang
Generasi muda merupakan korban terbanyak dari penyalah gunaan narkoba. Bahkan Indonesia sekarang bukan hanya sekedar tempat transit peredaran narkoba, melainkan sudah menjadi tujuan peredaran narkoba internasional.
11.     Meningkatnya Kasus Tindak Kekerasan Yang Melibatkan Generasi Muda
Hal ini banyak diketahui dari media massa, baik cetak maupun elektronik. Bahkan mayoritas tindak kekerasan dan kekejaman itu melibatkan dan atau dilakukan oleh generasi muda. Pembunuhan, perampokan tawuran antar kelompok “geng” marak terjadi dimasyarakat kita. Nuansa kekerasan ini pun sudah masuk dalam area pendidikan, khususnya di tingkat pergurun tinggi yang dilkukan oleh mahasiswa yang tentunya merupakan generasi muda terpelajar.
12.     Meningkatnya Pergaulan Bebas Dikalangan Generasi Muda
Hal ini berkaitan erat dengan pola hidup yang dipengaruhi oleh budaya-budaya asing yang banyak ditranformasikan melalui media massa, baik cetak maupun elektronik.
13.     Masih Tingginya Angka Putus Sekolah
Angka putus sekolah tidak hanya terjadi di pedesaan, melainkan juga diperkotaan. Hal ini berkaitan dengan mahalnya akses pendidikan, padahal mayoritas masyarakat Indonesia berada pada garis kemiskinan.




C.    POTENSI GENERASI MUDA
Potensi yang terdapat pada generasi muda yang perlu dikembangkan adalah sebagai berikut :
a.    Idealisme dan daya kritis
Secara sosiologis generasi muda belum mapan dalam tatanan yang ada sehingga dia dapat melihat kekurangan dalam tatanan tersebut dan secara wajar mampu mencari gagasan baru sebagai alternatif kearah perwujudan kearah tatanan yang lebih baik
b.    Dinamika dan kreatifitas
Adanya idealisme pada generasi muda menyebabkan mereka mimiliki potensi kedinamisan dan kreatifitas, yakni kemampun dan kesediaan untuk mengadakan perubahan, pembaharuan dan penyempurnaan kekurangan yang ada ataupun mengungkapkan gagasan yang baru
c.    Keberanian mengambil resiko
Perubahan dan pembaharua termasuk pembangunan mengandung resiko dapat meleset terhambat atau gagal. Namun mengambil resiko itu diperlukan jika ingin memperoleh kemajuan.
d.    Optimis dan kegairahan semangat
Kegagalan tidak menyebabkan generasi mudah patah semangat. Optimisme dan kegairahan semangat yang dimiliki generasi muda merupakan daya pendorong untuk mencoba maju lagi.
e.    Sikap kemandirian dan disiplin murni
Generasi memiliki keinginan untuk selalu mandiri dalam sikap dan tindakannya. Sikap kemandirian itu perlu dilengkapi kesadaran disiplin murni pada dirinya agar mereka dapat menyadari batas-batas yang wajar dan memiliki tenggang rasa.
f.    Terdidik
Walaupun dengan memperhitungkan faktor putus sekolah, secara menyeluruh baik dalam arti kuantitatif maupun dalam arti kualitatif, generasi muda secara relatif lebih terpelajar karena lebih terbukanya kesempatan belajar dari generasi pendahulunya.
g.    Keanekaragaman dalam persatuan dan kesatuan
Keanekaragaman generasi muda merupakan cermin keanekaragaman masyarakat kita. Keanekaragaman tersebut dapat menjadi hambatan jika dihayati secara sempit dan eksklusif, tapi dapat merupakan potensi dinamis dan kreatif sehingga merupakan sumber yang besar untuk kemajuan bangsanya. Maka para pemuda dapat didorong untuk menampilkan potensinya yang terbaik dan diberi peran yang jelas serta bertanggung jawab dalam menuju cita-cita bangsa.
h.    Patriotisme dan Nasionalisme
Pemupukan rasa kebangsaan, kecintaan dan turut memiliki bangsa dan negara dikalangan pemuda perlu ditingkatkan
i.    Fisik kuat dan jumlah banyak
Potensi ini merupakan kenyataan sosiologis dan demografis. Dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembangunan bangsa dan negaranya yang menghendaki pengarahan tenaga dalam jumlah besar.
j.    Sikap kesatria
Kemurnian idealisme, keberanian, semangat pengabdian dan pengorbanan serta rasa tanggung jawab sosial yang tinggi adalah unsur-unsur yang perlu dipupuk dan dikembangkan terus menjadi sikap kesatria.
k.    Kemampuan penguasaan ilmu dan teknologi
Para pemuda dapat berperan secara berdaya guna dalam rangka pengembangan ilmu dan teknologi secara fungsional dapat dikembangkan sebagai transformator terhadap lingkungannya.
D.    PENANGANAN  MASALAH
Dari berbagai permasalahan, misalnya permasalahan keberagamaan generasi muda, menunjukan bahwa persoalan generasi muda memang bukan persoalan yang sederhana, akan tetapi merupakan suatu persoalan yang kompleks, yang didalamnya melibatkan berbagai komponen bangsa. Oleh Karena itu, sangat wajar jika beberapa departemen dan instansi-instansi pemerintah lainnya memiliki program yang berkaitan dengan pemberdayaan generasi muda.
Persoalan generasi muda tidak selese hanya dengan banyaknya program pemberdayaan, akan tetapi yang lebih penting adalah koordinasi dari masing-masing program tersebut. Dengan berbagai masalah yang dihadapinya generasi muda selama ini telah memberikan kontribusinya yang sangat besar terhadap bangsa ini.









BAB III
PENUTUP
A.    SIMPULAN
Pemuda merupakan harapan bangsa, pemuda penentu kehidupan masa depan suatu bangsa, semakin baik kualitas generasi muda secara otomatis akan menjadi semakin baik suatu bangsa atau negara. Masalah pokok yang sangat menonjol dewasa ini, adalah kaburnya nilai-nilai di mata generasi muda. Mereka dihadapkan kepada berbagai kontradiksi dan aneka ragam pengalaman moral, yang menjadikan mereka bingung untuk memilih mana yang baik untuk diri mereka. Hal ini nampak jelas pada mereka yang sedang berada pada usia remaja, terutama pada mereka yang hidup di kota-kota besar Indonesia, yang mencoba mengembangkan diri ke arah kehidupan yang disangka maju dan modern, dimana berkecamuk aneka ragam kebudayaan asing yang masuk seolah-olah tanpa saringan (filter).
Sikap orang dewasa yang megejar kemajuan lahiriah tanpa mengindahkan nilai-nilai moral yang bersumber dari agama yang dianutnya, menyebabkan generasi muda kebingungan dalam bergaul, karena apa yang dipelajarinya di sekolah bertentangan dengan apa yang dialaminya dalam masyarakat, bahkan mungkin bertolak-belakangan dengan apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya sendiri di rumah.
B.    SARAN
Seandainya kita segera dapat menyadari bahaya yang terjadi itu dan dapat mengambil langkah-langkah positif kearah pembinaan kehidupan moral dan agama secara sungguh-sungguh, mudah-mudahan akan dapatlah terselamatkan Generasi Muda kita dari kehancuran
Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat korektif dan kontruktif demi kesmpurnaan penyusunan di masa yang akan datang.





















Daftar Pustaka
Abdullah, taufik. 1974. Pemuda dan Perubahan Sosial. Jakarta : LP3ES
Anjayani, Eni dkk, 2007,Permasalah Generasi Muda. Jakarta Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Http:// www.google.com

http://www.homeartikel.co.cc/2009/06/pemuda-dan-sosialisasi-serta-peranannya.html

 http://utankayu.blogspot.com/2007/02/merenungi-peran-pemuda.html

Selasa, 01 Oktober 2013

TEORI BELAJAR HUMANISTIK

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Belajar lebih dari sekedar mengingat. tetapi belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri siswa. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukan dalam berbagai bentuk, seperti perubahan pengetahuanya, sikap dan tingkah laku ketrampilan, kecakapanya, kemampuannya, daya reaksinya dan daya penerimaanya. Jadi belajar adalah suatu proses yang aktif, proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada pada siswa. Belajar merupakan suatu proses yang diarahkan pada suatu tujuan, proses berbuat melalui situasi yang ada pada siswa.
Dalam suatu pembelajaran juga perlu didukung oleh adanya suatu teori dan belajar, secara umum teori belajar di kelompokan dalam empat kelompok atau aliran meliputi: (1) Teori Belajar Behavioristik (2) Teori Belajar Kognitif (3) Teori Belajar Humanistik (4) Teori Belajar Sibernik.
B.    Rumusan Masalah
A.    Menjelaskan pengertian belajar menurut teori humanistik.
B.    Menjelaskan pandangan bebrapa tokoh terhadap belajar menurut teori humanistik.
C.    Menjelaskan penerapan teori belajar humanistik dalam kegiatan pembelajaran.

C.    Tujuan
A.     Mendefinisi belajar menurut teori humanistik.
B.    Untuk mengetahui pandangan para tokoh teori humanistik.
C.    Untuk mengetahui bagaimana implikasi teori humanistik terhadap pendidikan.








BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Belajar Menurut Teori Humanistik
Menurut teori humanistik, proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, teori belajar humanistik sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang kajian filsafat, teori kepribadian,dan psikoterapi, dari pada bidang kajian psikologi belaajar. Teori ini lebih tertarik pada pengertan belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada pemahaman tentang proses belajar sebagaimana apa adanya, seperti yang elah dikaji oleh teori belajar lainnya.
Pendekatan belajar yang dikemukakan oleh Ausubel tentang belajar bermakna atau “meaningful learning” yang juga tergolong dalam aliran kognitif ini, mengatakan  bahwa belajar merupakan asimilasi bermakna. Faktor dan pengalaman emosional sangat penting dalam peristiwa belajar, sebab tanpa motivasi dan keinginan dari pihak si belajar, maka tidak akan terjadi aaimilasi pengetahuan baru kedalam struktur kognitif yang telah dimilikinya. Teori humanistic berpendapat bahwa teori blajar apapun dapat dimanfaatkan, asal tujuannya untuk memanusiakan manusia yaitu mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, sert realisasi diri orang yang belajar, secara optimal.
Pemahaman terhadap belajar diidealkan menjadi tori humanistik dapat memnfaatkan teori belajar apapun asal tujuannya untuk memanusiakan manusia. Tidak dapat disangkal lagi bahwa setiap pendirian atau pendekatan belajar tertentu, aka nada kebaikan dan ada pula kelemahannya. Tori humanistic akan memanfaatkan teori-teori apapun, asal tujuannya tercapai, yaitu memanusiakan manusia.
Manusia adalah makhluk yang kompleks. Banyak ahli didalam menyusun teorinya hanya terpukau pada aspek tertentu yang menjadi pusat perhatiannya. Dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu setiap ahli penelitiannya dari sudut pandangnya masing-masing. Maka akan terdapat berbagai teori tentang belajar sesuai dengan pandangan maing-masing.
Dengan demikian teori humanistic dengan pandangannya yang elektik yaitu dengna memanfaatkan atau merangkum berbagai teori belajar dngan tujuan untuk memanusiakan manusia bukan saja mungkin untuk dilakukan, tetapi justru harus dilakukan.
Banyak tokoh penganut aliran humanistik, diantaranya adlah kolb yang terkenal dengan “Belajar Empat Tahap”nya, Honey dan  mumford dengan pembagian tentang macam-macam siswa, Hubermas dengan “Tiga Macam Tope Belajar”nya, serta Bloom dan Krathwohl yang terkenal dengan “Taksonomi Bloom”nya.

B.    Tokoh Teori Humanistik
1.    Pandangan Kolb terhadap Belajar
Kolb seorang ahli penganut aliran humanistik membagi tahap-tahap belajar menjadi 4, yaitu :
a.     Tahap pengalaman kongkret
Pada tahap paling awal dalam peristiwa belajar adalah seseorang mampu atau dapat mengalami suatu peristiwa atau suatu kejadian sebagaimana adanya. Ia dapat melihat dan merasakannya, dapat menceritrakan peristiwa tersebut sesuai dengan apa yang dialaminya. Namun dia belum memiliki kesadaran tentang hakikat dari peristiwa tersebut. Ia hanya dapat merasakan kejadian tersebut apa adanya, dan belum dapat memahami serta menjelaskan bagaimana peristiwa itu terjadi. Ia juga belum dapat memahami mengapa peristiwa tersebut harus terjadi seperti itu. Kemampuan inilah yang terjadi dan dimiliki seseorang pada tahap paling awal dalam proses belajar.
b.    Tahap pengalaman aktif dan reflektif
Tahap kedua dalam peristiwa belajar adalah bahwa seseorang makin lama akan semakin mampu melakukan observasi secara aktifterhadap peristiwa yang dialaminya. Ia mulai berupaya untuk mencari jawaban dan memikirkan kejadian tersebut. Ia melakukan refleksi terhadap peristiwa yang dialaminya, dengan mengembangkan pertanyaan-pertanyaan bagaimana hal itu bisa terjadi, dan mengapa hal itu mesti terjadi dan dimiliki seseorang pada tahap ke dua dalam proses belajar.
c.    Tahap konseptualisasi
Tahap ke tiga dalam peristiwa belajar adalah seseorang sudah mulai berupaya untuk membuat abstraksi, mengembangkan suatu teori, konsep, atau hukum dan prosedur tentang sesuatu yang menjadi objek perhatiannya. Berfikir induktif banyak dilakukan untuk merumuskan suatu aturan umum atau generalisasi dari berbagai contoh peristiwa yang dialaminya. Walaupun kejadian-kejadian yang diamati tampak berbeda-beda, namun memiliki komponen-komponen yang sama yang dapat dijadikan dasar aturan bersama.
d.    Tahap eksperimentasi aktif
Tahap terakhir dari peristiwa belajar menurut Kolb adalah melakukan eksperimentasi secara aktif. Pada tahap ini seseorang seseorang sudah mampu mengaplikasikan konsep-konsep, teori-teori atau aturan-aturan ke dalam situasi nyata. Berfikir deduktif banyak digunakan untuk mempraktekkan dan menguji teori-teori serta konsep-konsep di lapangan. Ia tidak lagi mempertanyakan asal usul teori atau suatu rumus, tetapi ia mampu menggunakan teori atau rumus-rumus tersebut untuk memecahkan masalah yang dihadapinya, yang belum pernah ia jumpai sebelumnya.
Tahap-tahap belajar demikian dilakukan oleh Kolb sebagai suatu siklus yang berkesinambungan dan berlangsung di luar kesadaran orang yang belajar. Secara teoritis tahap-tahap belajar tersebut memang dapat dipisahkan, namun dalam kenyataannya proses peralihan dari suatu tahap ke tahap belajar di atasnya sering kali terjadi begitu saja sulit untuk ditentukan kapan terjadinya.
2.    Pandangan Honey Dan Mumford Terhadap Belajar
Tokoh teori humanistik lainnya adalah Honey dan Mumford. Pandangannya tentang belajar diilhami oleh pandangan kolb mengenai tahap-tahap di atas. Honey dan Mumford menggolong-golongkan orang yang belajar ke dalam empat macam atau golongan, yaitu kelompok aktivis, golongan reflektor, kelompok teoritis dan golongan pragmatis. Masing-masing kelompok memiliki karakteristik yang berbeda dengan kelompok lainnya. Karakteristik tang dimaksud adalah :
a.    Kelompok aktivis
Orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok aktivis adalah mereka yang senang melibatkan diri dan berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan dengan tujuan untuk memperoleh pengalaman-pengalaman baru. Orang-orang tipe ini mudah diajak berdialog, memiliki pikiran terbuka, menghargai pendapat orang lain, dan mudah percaya pada orang lain. Namun dalam melakukan suatu tindakan sering kali kurang pertimbangan secara matang, dan lebih banyak didorong oleh kesenangannya untukmelibatkan diri. Dalam kegiatan belajar, orang-orang demikian senang pada hal-hal yang sfatnya penemuan-penemuanbaru, seperti pemikiran baru, pengalaman barru dan sebagainya, sehingga metode yang cocok adalah problem solving, barin storming. Namun mereka akan cepat bosan dengan kegiatan-kegiatan yang implementasinya memakan waktu lama.
b.    Kelompok reflektor
Mereka yang termasuk dalam kelompok reflektor mempunyai kecenderungan yang berlawanan dengan mereka yang termasuk kelompok aktivis. Dalam dalam melakukan suatu tindakan, orang-orang tipe rflektor sangant berhati-hati dan penuh pertimbangan. Pertimbangan-pertimbangan baik-buruk dan untung-rugi, selalu memperhitungkan dengan cermat dalam memutuskan sesuatu. Orang orang demikian tidak mudah dipengaruhi, sehingga mereka cenderung bersifat konservatif.
c.    Kelompok teoritis
Lain halnya dengan orang-orang tipe teoritis, merreka memiliki kecenderugan yang sangat keritis, suka menganalisis, selalu berfikir rasional dengan menggunakan penalarannya. Segala sesuatu sering dikembalikan kepada teori dan konsep-konsep atau hukum-hukum. Mereka tidak menyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya subjektif. Dalam melakukan atau memutuskan sesuatu, kelompok teoritis penuh dengan pertimbangan, sangat skeptis da tidak menyukai hal-hal yang bersifat spekulatif. Mereka tampak lebih tegas dan mempunyai pendirian yang kuat, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain.
d.    Kelompok pragmatis
Berbeda dengan orang-orang tipe prangmatis, mereka memiliki sifat-sifat praktis, tda suka berpanjang lebardengan teori-teori, konsep-konsep, dalil-dalil, dan sebagainya. Bagi mereka yang penting adalah aspek-aspek praktis, sesuatu yang nyata dan dapat dilaksanakan. Sesuatu hanya bermanfaat jika dapat dipraktekkan. Teori, konsep, dalil, memang penting, tetapi jika itu semua tidak dapat dipraktekkan maka teori, konsep, dalil, dan lain-lain itu tidak ada gunanya. Bagi mereka, sesuatu lebih baik dan berguna jika dapat dipraktekkan dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.
3.    Pandangan Habermas Terhadap Belajar
Tokoh humanis lain adalah Hubermas. Menurutnya, belajar baru akan terjadi jika ada interaksi antara individu dengan lingkungannya. Lingkungan belajar yang dimaksud di sini adalah lingkungan alam maupun lingkkungan sosial, sebab antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Dengan pandangannya yang demikian, ia membagi tipebelajar menjadi tiga, yaitu belajar teknis (technical learning), belajar praktis (practical learning), dan belajar emansipatoris (emancypatory learning).  Masing-masing tipe memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.    Belajar teknis (technica learning)
Yang dmaksud belajar teknis adalah belajar bagaimana seseorang dapat beinteraksi dengan lingkungan alamnya secara benar. Pengetahuan dan keterampilan apa yang dibutuhkan dan perlu dipelajari agar dapat mereka dapat menguasai dan mengelola lingkungan alam sekitarnya dengan baik. Oleh sebab itu, ilmu-ilmu alam atau sain amat dipentingkan dalam belajar teknis.
b.    Belajar praktis (practical learning)
Sedangkan yang dimaksud belajar praktis adalah belajar bagaimana seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, yaitu dengan orang-orang di sekelilingnya dengan baik. Kegiatan belajar ini lebih mengutamakan terjadinya interaksi yang harmonis antar sesama manusia. Untuk itu bidang-bidang ilmu yang berhubungan sosiologi, komunikasi, psikologi, antropologi, dan semacamnya, amat diperlukan. Sungguhpun demikian, mereka percaya bahwa pemahaman dan keterampilan seseorang dalam mengelola lingkungan alamnya tidak dapat dipisahkan dengan kepentingan manusia pada umumnya. Oleh sebab itu, interaksi yang benar antara individu dengan lingkungan alamnya hanya akan tampak dari kaitan atau relevansinya dengan kepentingan manusia.
c.    Belajar emansipatoris (emancypatory learning)
Lain halnyadengan beljar emansipatoris. Belajar emansipatoris menekanan upaya agar seseorang mencapai suatu pemahaman dan kesadaran yang tinggi akan terjadinya perubahan atau informasi budaya dalam lingkungan sosialnya. Dengan pengertian demikian maka dibutuhkan pengetahuan dan ketrampilan serta sikap yang benar untuk mendukung terjadinya transformasi kultural tersebut. Untuk itu, ilmu-ilmu yang berhubungan dengan budaya dan bahasa amat diperlukan. Pemahaman dan kesadaran terhadap trasformasi kultural inilah yang oleh Habermas dianggap sebagai tahap belajar yang paling tinggi, sebab transformasi kultural adalah tujuan tujuan pendidikan paling tinggi.
4.    Pandangan Bloom Dan Krathwohl Terhadap Belajar
. Tujuan belajar yang dikemukakannya dirangkum ke dalam tiga kawasan yang dikenal dengan sebutanTaksonomi Bloom. Melalui taksonomi Bloom inilah telah brhasil memberikan ispirasi kepada banyak pakar pendidikan dalam mengembangkan teori-teori maupun peraktek pembelajaran. Pada tataran praktis, taksonomi Bloom ini telah membantu para pendidik dan guru untuk merumuskan tujuan-tujuan belajar yang akan dicapai, dengan rumusan yang mudah dipahami. Berpijak pada taksonomi Bloom ini pula para praktisi pendidikan dapat merancang program-program pembelajarannya. Setidaknya di Indonesia, taksonomi Bloom ini telah banyak dikenal dan paling populer di lingkungan pendidikan. Secara ringkas, ketiga kawasan dalam taksonomi Bloom adalah sebagai berikut :
Domain koognitif, terdiri atas 6 tingkatan, yaitu :
1.    Pengetahuan (mengingat, menghafal)
2.    Pemahaman (menginterprestasikan)
3.    Aplikasi (menggunakan konsep untuk memecahkan masalah)
4.    Analisis (menjabarkan suatu konsep)
5.    Sintesis (menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi suatu konsep utuh
6.    Evaluasi (membandingkan nilai-nilai, ide, metode, dsb.

Domain psikomotor, terdiri atas 5 tingkatan, yaitu :
1.    Peniruan (menirukan gerak)
2.    Penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak)
3.    Ketepatan (melakukan gerak dengan benar)
4.    Perangkaian (melakukan beberapa gerakan sekaligus dengan benar)
5.     Naturalisasi (melakukan gerak secara wajar
Domain afektif, terdiri atas 5 tingkatan, yaitu :
1.    Pengalaman (ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu)
2.    Merespon (aktif berprtisipasi)
3.    Penghargaan (menerima nilai-nilai, setia pada nilai-nilai tertentu)
4.    Pengorganisasan (menghubung-hubungkan nilai-nilai yang dipercayainya)
5.    Pengamalan (menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidupnya)

C.    Aplikasi Teori Belajar Humanistik Dalam Kegiatan Pembelajaran
Teori humanistik sering dikritik karena sukar diterapkan daam konteks yang lebih praktis. Teori ini diangagap lebih dekat dengan bidang filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi dari pada bidang pendidikan, sehingga sukar menterjemahkannya ke dalam langkah-langkah yang lebih kongkret dan praktis. Namun karena sifatnya yang ideal, yaitu memanusiakan manusia, maka teori humanistik mampu memberikan arah terhadap semua komponen pembelajaran untuk mendukung tercapainya tujuan tersebut.
Semua komponen pendidikan temasuk tujuan pendidikan diarahkan pada terbentuknya manusia yang ideal, manusia yang dicita-citakan, yaitu manusia yang mampu mencapai aktualisasi diri. Untuk itu, sangat perlu diperhatikan bagaimana perkembangan peserta didik dalam mengaktualisasi dirinya, pemahaman terhadap dirinya, serta realisasi diri. Pengalaman emosional dan karakteristik khusus individu dalam belajar perlu diperhatikan oleh guru dalam merencanakan pembelajaran. Karena seseorang akan dapat belajar dengan baik jika mempunyai pengertian tentang dirinya sendiri dan dapat membuat pilihan-pilihan secara bebas ke arah mana ia akan berkembang. Dengan demikian teori humanistik mampu menjelaskan bagaimana tujuan yang ideal tersebut dapat dicapai.
Teori humanistik akan sangat membantu para pendidik dalam memahami arah belajar pada dimensi yang lebih luas, sehingga upaya pembelajaran apapun dan dalam konteks manapun akan selalu diarahkan dan dilakukan untuk mencapai tujuannya. Meskipun teori humanistik ini masih sukar diterjemahkan ke dalam langkah-langkah pembelajaran yang praktis dan operasional, namun sumbangan teori ni amat besar. Ide-ide, konsep-konsep, taksonomi-taksonomi tujuan yang telah dirumuskannya dapat membantu para pendidik dan guru untuk memahami hakekat kejiwaan manusia. Hal ini akan dapat membantu mereka dalam menentukan komponen-komponen pembelajaran seperti perumusan tujuan, penentuan materi, pemilihan strategi pembelajaran, serta pengembangan alat evaluasi, ke arah pembentukan manusia yang dicita-citakan tersebut.
Kegiatan pembelajaran yang dirancang secara sistematis, tahap demi tahap secara ketat, sebagai mana tujuan-tujuan pembelajaran yang telah dinyatakan secara eksplisit dan dapat diukur, kondisi belajar yang dapat diatur dan ditentukan, serta pengalaman-pengalaman belajar yang dipilih untuk siswa, mungkin saja berguna bagi guru tetapi tidak berarti bagi siswa (Rogers dalam Snelbecker, 1974). Hal tersebut tidak sejalan dengan teori humanistik. Menurut teori ini, agr belajar bermakna bagi siswa, diperlukan insiatif dan keterlibatan penuh dari siswa sendiri. Maka siswa akan mengalami belajar eksperiensial (experiential learning).
Dalam prakteknya teori humanistik ini cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar. Oleh sebab itu, walaupun secara ekspilsit belum ada pedman baku tantang langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan humanistik, namun paling tidak langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan humanistik, namun paling tidak langkah-langkah pembelajaran yang dikemukakan oleh Suciati dan Prasetya Irawan (2001) dapat digumakan sebagi acuan. Langkah-langkah yang dimaksud adalah sebagi berikut:
1.    Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran.
2.    Menentukan materi pembelajaran.
3.    Mengidentifikasi kemampuan awal (entri behvior) siswa.
4.    Mengidentifikasi topik-topik pelajaran yang memungkinkan siswa secara aktif melibatkan diri atau mengalami dalam belajar.
5.    Merancang fasilitas belajar seperti lingkungan dan media pembelajaran.
6.    Membimbing siswa belajar secara aktif.
7.    Membimbing siswa untuk memahami hakikat makna dari pengalaman belajarnya.
8.    Membimbing siswa membuat konseptualisasi pengalaman belajarnya.
9.    Membimbing siswa dalam mengaplikasikan konsep-konsep baru ke situasi nyata.
10.    Mengevaluasi proses dan hasil belajar.


BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Menurut teori humanistik, proses belajar dimulai dan ditujukan untuk memanusiakan manusia itu sendiri. Teori belajar humanistik bersifat abstrak dan lebih mendekati kajian filsafat, teori kepribadian,dan psikoterapi dari pada bidang kajian psikologi belajar.

Kolb seorang ahli penganut alirat humanistikmembagi tahap-tahap belajar menjadi empat, yaitu :

1.    Tahap pengalaman kongkret.
2.    Tahap pengamatan aktif dan reflektif.
3.    Tahap konseptualisasi.
4.    Tahap ekperimintasi

Habermas membagi tipe beljar menjadi tiga bagian, yaitu :

1.    Belajar teknis.
2.    Belajar praktis.
3.    Belajar emansipatorik.

Honey dan Mumfaordmenggolongkan orang yang belajar dalam empat kelompok, yaitu :

1.    Kelompok aktivis.
2.    Kelompok reflektor.
3.    Kelompok teori, dan
4.    Kelompok prakmatis.

Selain tokoh-tokoh di atas, Bloom dan Krathwohl juga termasuk penganut aliran humanis. Mereka lebih menekankan perhatiannya pada apa yang mesti dikuasai oleh individu (sebagai tujuan belajar), setelah melalui peristiwa-peristiwa belajar.
Aplikasi teori humanistik dalam kegiatan pembelajaran cenderung mendorong siswa untuk berfikir induktif. Teori ini juga amat mementingkan faktor pengalaman dan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar.

DAFTAR PUSTAKA
Hatimah, Ihat. Dkk. (2008). Pembelajaran Berwawasan Pembelajaran. Jakarta. Universitas Terbuka.

Clarashinta92.wordpress.com/2013/04/17/teori-humanistik-dalam-pembelajaran/

Hasanudin18.wordpress.com/2012/02/09/teori-belajar-humanistik-dan-penerapannya-dalam-pembelajaran/